Selasa, 22 November 2016
Minggu, 13 November 2016
Awal Kedatangan Islam di Indonesia
Islam
di Indonesia baik secara historis maupun sosiologis sangat kompleks, terdapat
banyak masalah, misalnya tentang sejarah dan perkembangan awal Islam. Oleh
karena itu, para sarjana sering berbeda pendapat. Harus diakui bahwa penulisan
sejarah Indonesia diawali oleh golongan orientalis yang sering ada usaha untuk
meminimalisasi peran Islam, di samping usaha para sarjana Muslim yang ingin
mengemukakan fakta sejarah yang lebih jujur (Sunanto, 2012: 7).
Menurut
Suryanegara bahwa ada beberapa teori yang membahas terkait awal mula masuknya
Islam di Indonesia. Teori-teori ini mencoba memberikan jawaban atas
permasalahan tentang masuknya agama Islam ke Nusantara dengan perbedaan
pendapatnya: Pertama, mengenai waktu masuknya agama Islam. Kedua,
tentang asal negara yang menjadi perantara atau sumber tempat pengambilan
ajaran agama Islam. Ketiga, tentang pelaku penyebar atau pembawa agama
Islam ke Nusantara.
Berikut
akan dipaparkan terkait teori masuknya Islam di Indonesia, diantaranya sebagai
berikut:
Pertama, teori Gujarat. Menurut Suryanegara (1996: 75) bahwa
peletak dasar teori ini kemungkinan adalah Snouck Hurgronje dalam bukunya “L’
Arabie et les Indes Neerlandaises, atau Revue de I’Histoire des
Religious.” Snouck Hurgronje lebih menitikberatkan pandangannya ke Gujarat
berdasarkan: Pertama, kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa
Arab dalam penyebaran agama Islam ke Nusantara. Kedua, hubungan dagang
Indonesia-India telah lama terjalin. Ketiga, inskripsi tertua tentang
Islam yang terdapat di Sumatra memberikan gambaran hubungan antara Sumatra
dengan Gujarat.
Suryanegara
(1996: 75-76) mengutip pendapat W.F. Stutterheim dalam bukunya “De Islam en
Zijn Komst In de Archipel” yang menyatakan bahwa masuknya Islam ke
Nusantara pada abad ke 13. Pendapatnya juga di dasarkan pada bukti batu nisan
Sultan pertama dari Kerajaan Samudera Pasai, yakni Malik As-Saleh yang wafat
pada 1297. Selanjutnya ditambahkan tentang asal negara yang mempengaruhi
masuknya agama Islam ke Nusantara adalah Gujarat. Dengan alasan bahwa agama
Islam disebarkan melalui jalan dagang antara Indonesia-Cambay (Gujarat)- Timur
Tengah-Eropa. Sama halnya dengan pendapat W.F. Stutterheim, Snouck Hurgronje
berpendapat pula bahwa awal masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke 13 M dari
Gujarat.
Kedua, teori Makkah. Menurut Hamka sebagaimana dikutip oleh
Sunanto (2012: 8-9) dalam bukunya bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada
abad pertama Hijriyah (kurang lebih abad ke-7 sampai 8 M) langsung dari Arab
dengan bukti jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional sudah
dimulia jauh sebelum abad ke-13 (yaitu sudah ada sejak abad ke-7 M) melalui
selat Malaka yang menghubungkan Dinasi Tang di Cina (Asia Timur), Sriwijaya di
Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat. Senada dengan Suryanegara dalam
Api Sejarah (2012: 99) sebagaimana mengutip pendapat Hamka bahwa masuknya Islam
ke Nusantara Indonesia terjadi pada abad ke-7 M. Dalam berita Cina Dinasti Tang menuturkan
ditemuinya daerah hunian wirausahawan Arab Islam di pantai Barat Sumatera maka
dapat disimpulkan Islam masuk dari daerah asalnya Arab. Dibawa oleh wiraniagawan
Arab. Sedangkan kesultanan Samudera Pasai yang didirikan pada 1275 M atau abad
ke-13 M, bukan awal masuknya agama Islam, melainkan perkembangan agama Islam.
Menurut Matta (2014: 34) dalam
bukunya “gelombang ketiga Indonesia” mengatakan bahwa para ahli sejarah
mencatat ada dua gelombang masuknya Islam di Nusantara, yaitu abad ke-7 dan
abad ke-13. Agama ini di bawah oleh pedagang dari Arab yang menetap di
kota-kota pelabuhan Nusantara. Pada abad ke-8 telah berdiri perkampungan muslim
di pesisir Sumatera. Pada awalnya, Sumatera (dan Nusantara pada umumnya)
hanyalah persinggahan para pedagang Arab menuju Tiongkok dan Jawa. Pada abad
ke-13, Samudera Pasai menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara, disusul
berdirinya kerajaan Demak pada abad ke-15. Awalnya, Raden Fatah adalah wakil
kerajaan Majapahit di daerah itu yang kemudian dia memutuskan masuk Islam dan
mendirikan kerajaan sendiri.
J.C. Van Leur dalam bukunya “Indonesia:
Trade and Society” menyatakan bahwa pada 674 M di pantai Barat Sumatera
telah terdapat perkampungan (Koloni) Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa
Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4.
Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan lagi pada 618 M dan 626 M.
Tahun-tahun berikutnya perkembangan perkampungan perdagangan ini mulai
mempraktikan ajaran agama Islam. Hal ini mempengaruhi pula perkampungan Arab
yang terdapat di sepanjang jalan perdagangan Asia Tenggara. Dari keterangan
J.C. Van Leur ini masuknya Islam ke Nusantara tidaklah terjadi pada abad ke-13,
melainkan telah terjadi sejak abad ke-7. Sedangkan abad ke-13 merupakan saat
perkembangan Islam (Suryanegara, 1996: 76).
Sejumlah
ahli Indonesia dan beberapa ahli Malaysia mendukung “teori Arab” dan mazhab
tersebut. Dalam seminar-seminar tentang kedatangan Islam ke Indonesia yang
diadakan pada 1963 dan 1978, disimpulkan bahwa Islam yang datang ke Indonesia
langsung dari Arab, bukan dari India. Islam datang pertama kali datang ke
Indonesia pada abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 Masehi, bukan abad ke-12
atau ke-13 M. (Huda, 2007: 36).
Ketiga, Teori Persia. Menurut Suryanegara (1996: 90) bahwa
pembangunan teori Persia ini di Indonesia adalah P.A. Hoesein Djajadiningrat.
Fokus pandangan teori ini tentang masuknya agama Islam ke Nusantara berbeda
dengan teori Gujarat dan Makkah, sekalipun mempunyai kesamaan masalah
Gujaratnya, serta Mazhab Syafi’inya. Teori Persia lebih menitikberatkan
tinjauannya kepada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia
yang dirasakan mempunyai persamaan dengan Persia.
Menurut Suryanegara kesamaan
kebudayaan ini dapat dilihat pada masyarakat Islam Indonesia antara lain:
Pertama,
peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringatan Syi’ah atas kematian
syahidnya Husain. Peringatan ini berbentuk pembuatan bubur Syura. Di
Minangkabau bulan Muharram disebut bulan Hasan-Husain. Di Sumatera tengah
sebelah Barat, disebut bulan Tabut, dan diperingati dengan mengarak keranda
Husain untuk dilemparkan ke sungai atau ke dalam perairan lainnya. Keranda
tersebut disebut tabut diambil dari bahasa Arab (Suryanegara, 1996: 90).
Kedua, adanya
kesamaan ajaran antara Syaikh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Iran Al-Hallaj,
sekalipun Al-Hallaj telah meninggal pada 310 H/ 922 M, tetapi ajarannya
berkembang terus dalam bentuk puisi, sehingga memungkinkan Syaikh Siti Jenar
yang hidup pada abad ke-16 dapat mempelajarinya (Suryanegara, 1996: 90).
Ketiga,
penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab, untuk
tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajian Al-Qur’an tingkat awal:
|
Bahasa
Iran
|
Bahasa
Arab
|
|
Jabar-
Zabar
|
Fathah
|
|
Jer-
Ze-er
|
Kasrah
|
|
P’es-
Py’es
|
Dhammah
|
Kapan dan mengapa Islam mudah diterima oleh masyarakat serta penguasa pada masa itu
Sebab-sebab Islam mudah diterima Di Indonesia
1).
Kelemahan kerajaan Majapahit sesudah Hayam Wuruk menjadikan goyahnya terhadap
agama Hindu dan Budha serta kepercayaan lama yang lain. Goncangnya keyakinan
terhadap agama yang lama itulah yang menyebabkan penduduk Indonesia mudah
menerima agama yang baru, yakni agama Islam.
2).
Islam memberi pcrasaan harga diri sesama manusia, orang yang berkedudukan
rendah merasa sederajat dengan orang yang berpangkat sebagai anggota masyarakat
Islam maka penduduk dengan mudah menerima Islam. Ingat hal ini berlawanan dengan
idiologi Hindu dengan sistim kastanya. Oleh karena itu proses pengislaman di
Indonesia dan bawah ke atas (dari rakyat ke raja).Setelah penduduk memeluk
agama Islam, baru dengan pertimbangan politik raja memeluk agama Islam juga
agar mendapatkan dukungan dari tentara dan penduduk. (Ingat dalam masalah ini
Guru Agama mempunyai peranan yang sangat penting).
3).
Dalam menyampaikan ajarannya Guru Agama pandai menyesuaikan diri dengan
penduduk setempat, baik penyesuaian materi ajarannya yang diberikan maupun
tingkah-lakunya. Sehingga penduduk mudah menerimanya.
Pengislaman penduduk daerah pantai dan pedagang maju pesat.Setelah dunia perdagangan di Indonesia dikuasai oleb orang Islam, barulah para pedagang dan pembesar-pembesar pelabuhan Tuban dan Gresik (milik Majapahit) mau masuk Islam, karena mereka takut kehilangan mata pencaharian. Pengislaman semacam itu tidak hanya terjadi di daerah tersebut, melainkan juga dilakukan di daerah-daerah lain di kepulauan Indonesia. Juga menjangkau daerah-daerah pedalaman yang penduduknya terdiri dari petani. Sehingga makin hari makin bertambah banyak jumlah umat Islam Indonesia. Sampai pada waktunya kaum Muslimin mempunyai tempat yang terhormat dan memiliki kekuatan yang menentukan. Kemudian berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, seperti kerajaan Pasai, Demak, Banten, Cirebon Banjar, Maluku dan lain-lain. Kesemuanya itu berkat perjuangan guru-guru agama bersama-sama rakyat yang dijiwai semangat tauhid yang tinggi dan suci. Maka hasilnya tidak akan tergoyahkan sampai sekarang dan seterusnya.
Kepercayaan- Kepercayaan Sebelum Islam
Kepercayaan - Kepercayaan Sebelum Islam
Agama Asli Nusantara adalah agama-agama tradisional yang
telah ada sebelum agama Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu,
Buddha, Konghucu masuk ke Indonesia.
Mungkin banyak di kalangan masyarakat Indonesia sudah tidak lagi mengetahui bahwa sebelum agama-agama "resmi" (agama yang diakui); Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha, kemudian kini Konghucu, masuk ke Nusantara atau Indonesia, di setiap daerah telah ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti:
Mungkin banyak di kalangan masyarakat Indonesia sudah tidak lagi mengetahui bahwa sebelum agama-agama "resmi" (agama yang diakui); Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha, kemudian kini Konghucu, masuk ke Nusantara atau Indonesia, di setiap daerah telah ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti:
1.
Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda
di Kanekes, Lebak, Banten
2.
Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur
(dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat
3.
Buhun di Jawa Barat
4.
Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur
5.
Parmalim, agama asli Batak
6.
Kaharingan di Kalimantan
7.
Tonaas Walian di Minahasa, Sulawesi Utara
8.
Tolottang di Sulawesi Selatan
9.
Wetu Telu di Lombok
1.
Naurus di Pulau Seram di Propinsi Maluku
Didalam Negara Republik Indonesia, agama-agama asli Nusantara tersebut didegradasi sebagai ajaran animisme, penyembah berhala / batu atau hanya sebagai aliran kepercayaan.
Hingga kini, tak satu pun agama-agama dan kepercayaan asli Nusantara yang diakui di Republik Indonesia sebagai agama dengan hak-hak untuk dicantumkan di KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil, dsb.
Seiring dengan berjalannya waktu dan jaman, Agama Asli Nusantara semakin punah dan menghilang, kalaupun ada yang menganutnya, biasanya berada didaerah pedalaman seperti contohnya pedalaman Sumatera dan pedalaman Irian Jaya.
Di Indonesia, aliran kepercayaan yang paling banyak penganutnya adalah Agama Buhun. Data yang terekam oleh peneliti Abdul Rozak, penulis Teologi Kebatinan Sunda, menunjukkan jumlah pemeluk agama ini 100 ribu orang.
Jika angka ini benar, Agama Buhun jelas salah satu aliran kepercayaan terbesar di Indonesia, yaitu 25 persen dari seluruh penghayat aliran kepercayaan. Data Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 mengungkapkan, dari 245 aliran kepercayaan yang terdaftar, sementara keseluruhan penghayat mencapai 400 ribu jiwa lebih.
Tetapi agama asli Indonesia yang paling terkenal adalah Kejawen.
Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dikatakan agama yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku-bangsa lainnya yang menetap di Jawa.
Penamaan "Kejawen" bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, Kejawen merupakan bagian dari agama lokal Indonesia.
Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java. Olehnya Kejawen disebut "Agami Jawi".
Penganut ajaran Kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan "ibadah").
Ajaran Kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep "keseimbangan". Dalam pandangan demikian, Kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya. Hampir tidak ada kegiatan perluasan ajaran (misi) namun pembinaan dilakukan secara rutin.
Simbol-simbol "laku" biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang (termasuk penghayat Kejawen sendiri) yang dengan mudah mengasosiasikan Kejawen dengan praktek klenik dan perdukunan.
Ajaran-ajaran Kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen.
Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.
Terdapat ratusan aliran Kejawen dengan penekanan ajaran yang berbeda-beda. Beberapa jelas-jelas sinkretik, yang lainnya bersifat reaktif terhadap ajaran agama tertentu. Namun biasanya ajaran yang banyak anggotanya lebih menekankan pada cara mencapai keseimbangan hidup dan tidak melarang anggotanya mempraktekkan ajaran agama (lain) tertentu.
Beberapa aliran dengan anggota besar
1. Sumarah
2. Susila-Budi-Dharma (Subud)
3. Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu)
4. Sapta Dharma
Aliran yang bersifat reaktif misalnya aliran yang mengikuti ajaran Sabdopalon, penghayat ajaran Syekh Siti Jenar (juga bersifat sinkretik), dan ajaran Samin (yang menentang kapitalisme dan kolonialisme melalui cara spiritual dan perubahan tingkah laku).
Keadaan Masyarakat Indonesia Sebelum Kedatangan Islam
A.
Sekilas Kondisi Geografis
Indonesia
Nama Indonesia digunakan dalam pembahasan ini untuk
menunjukkan seluruh kesatuan wilayah yang membentuk negara Republik Indonesia.
Nama ini untuk pertama kali digunakan oleh Adolf Bastian (seorang etnolog Jerman)
pada tahun 1884M untuk mengidentifikasikan seluruh wilayah kepulauan Indonesia.
Kepulauan ini juga dulu dikenal dengan sebutan Nusantara.
Indonesia adalah kelompok kepulauan terbesar di dunia.
Diperkirakan kurang lebih 3.000 pulaunya. Kepulauan Indonesia sangat panjang
yang terbentang dari Barat ke Timur yaitu dari titik terbarat Sumatra sampai ke
titik paling Timur Irian Jaya(Papua). Kepulauan Indonesia termasuk salah satu
wilayah yang terbanyak gunung berapinya. Di Jawa, Sumatra dan beberapa pulau
lainnya terdapat lebih dari 100 buah gunung berapi yang masih aktip.
Indonesia mempunyai iklim tropis yang sangat dipengaruhi
oleh pegunungan dan laut. Temperatur berkisar 20 derajat Celsius sampai 30
derajad Celsius. Curah hujan lebih dari 102 cm setahun. Beberapa daerah seperti
Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Maluku lebih banyak turun hujannya.
Kepulauan Indonesia dipengaruhi oleh dua musim, musim kemarau dan hujan. Musim
kemarau berlangsung antara bulan Mei sampai dengan September dan musim penghujan
antara bulan Oktober sampai dengan April.
Indonesia terletak di antara dua benua, Asia dan Australia,
dua samudra India dan Fasifik. Karena letaknya yang demikian, kepulauan ini
menjadi jembatan penyeberangan berbagai bangsa di zaman dahulu (pra Sejarah).
Dan tak kurang pula pentingnya adalah letak Indonesia pada jalur perdagangan di
antara dua pusat perdagangan “Internasional” zaman dulu (Sejarah Indonesia
Klasik), yaitu antara India dan Cina. Juga memungkinkan Indonesia senantiasa
dilalui oleh pelayaran tersingkat antara Asia Timur disatu pihak dan Asia
Selatan-Asia Barat-Afrika di pihak lain. Jadi tepat dikatakan bahwa kepulauan
Indonesia terletak pada persimpangan jalan dunia.
B.
Agama dan Kepercayaan
Agama anutan penduduk yang mendiami kepulauan Nusantara
sebelum tersiarnya agama Islam adalah agama Hindu dan Budha. Dan sebelum
berkembangnya kedua agama tersebut tiap suku atau masyarakat Nusantara telah
memiliki sistem religi yang beraneka ragam.
Dari hasil penelitian ilmu Antropologi dan Sosiologi
terhadap suku-suku bangsa di kepulauan Nusantara ini, terlihat adanya keaneka
ragaman sistem kepercayaan itu. Fenomena keagamaan itu terlihat dengan jelas
baik pada suku bangsa yang memang secara resmi belum menyatakan diri sebagai
penganut agama besar, misalnya Pelbegu-Nias (Sumatera), Kaharingan-Dayak
(Kalimantan), Aluk Todolo-Toraja, Patuntung dan Tolotan (Sulawesi Selatan).
Sesungguhnya sangat sulit untuk mengungkap sistem agama dan
kepercayaan yang menjadi anutan masyarakat di kepulauan Nusantara secara
keseluruhan, oleh karena sumber-sumber yang dapat dijadikan bahan penelitian
sangat minim sehingga juga sangat sulit dapat diketahui mengenai proses
perbauran antara sistem kepercayaan asli tiap etnis di kepulauan Nusantara
dengan sistem kepercayaan pada agama Hindu dan Budha. Yang pasti sebelum
kedatangan agama besar itu, nenek moyang bangsa Indonesia bukanlah bangsa liar
yang tidak mempunyai sistem religi dan kepercayaan, tetapi mereka telah tunduk
dan patuh pada sistem yang mengaturnya sesuai dengan alam pikiran mereka
sendiri.
Banyak faktor yang menjadi indikator, mengapa agama Hindu
dan Budha tersiar dan tersebar di kepulauan Nusantara kemudian menyatu dengan
sistem religi setempat. Antara lain bahwa agama yang berasal dari India selatan
itu adalah merupakan akar yang utama dari kebudayaan yang termaju di kawasan
Asia pada abad-abad pertama Masehi itu.
Untuk menyamakan kedudukan agar setarap dengan kemajuan yang
telah dicapai oleh bangsa India, maka seyogyanyalah tiap suku bangsa yang
mengadakan hubungan dengan mereka untuk mengambil dan menerima sistem
kepercayaan agama Hindu dan Budha, seterusnya akan mempengaruhi sistem
kehidupan sosialnya. Berubahlah alam gaib dari sebahagian orang Indonesia
menjadi sama dengan alam gaib menurut agama Hindu dan Budha, begitu pula sistem
kekerabatan, sistem pemerintahan, kesenian dan sebagainya.
Para ahli sejarah mengatakan bahwa agama Budha yang lebih
awal tersiar di Indonesia kemudian agama Hindu, setidak-tidaknya kedatangan
hamper bersamaan, meskipun kita ketaahui bahwa agama Hindu itu jauh lebih tua
dari agama Budha.
Bilamana dan Bagaimana agama Budha itu memulai
perkembangannya di kepulauan Nusantara, belum dapat diketahui dengan pasti.
Diduga bahwa sejak abad 1 Masehi agama Budha/Hindu telah mulai masuk secara
berangsur-angsur ke Indonesia. Keterangan paling awal diperoleh dari Fa Hsien
seorang Bikhu Cina yang pernah mengunjungi pulau Jawa 414 M. Menurut
keterangannya penduduk pulai yang dikunjunginya itu menganut agama Budha. Bikhu
Gunawarman dari Kasmir juga pernah menetap di pulai Jawa sekitar tahun 421 M.
Ia menyebar luaskan pengajaran agama Budha, malah berhasil menterjemahkan
pustaka suci agama Budha dari aliran Dar, Agupta yaitu Mulasarvastivadanikava
ke dalam bahasa Sansekerta. Kerajaan yang dikunjungi Fa Hsien diperkirakan
adalah Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat (400-500 M) dengan rajanya yang
terkenal.
Menurut pengakuannya pada kerajaan itu penganut Budha
sedikit. Kebanyakan penduduk masih menganut agama “kotor” yaitu agama asli
penduduk yang sudah lama dianut sebelum kedatangan agama Budha di Indonesia.
Pada tahun 672 M., Bhikhu l Tsing dalam perjalanannya dari
Kanton (Cina) menuju India mengunjungi Kerajaan Sriwijaya dan menetap sekitar
enam bulan untuk belajar bahasa Sansekerta. Agama Budha berkembang mengikuti
laju perkembangan Kerajaan Sriwijaya. Di ibu kota Sriwijaya telah berdiri
Perguruan Tinggi Agama Budha. I Tsing menyebut Perguruan Tinggi itu negeri Fo
Shih, di sana belajar lebih seribu Bhikhu Budha seperti halnya di India. Bahkan
Bhikhu Cina sebelum ke India belajar, Universitas Nalanda, ia terlebih dulu
belajar selama dua tahun di Perguruan Tinggi tersebut. Ini merupakan bukti
adanya jalinan kuat antara kedua perguruan tinggi agama itu.
Sedang agama Hindu masuk ke Indonesia dapat dipahami juga
dari beberapa kerajaan tertua yang menganut agama Hindu seperti, Kerajaan Kutai
4 M, Mataram Kuno, Medang Kamulan/Isyana, Kediri dan Singosari dan Majapahit.
Ini menunjukkan adanya jalinan kuat antara pemerintah setempat dengan negara
asal agama tersebut.
C.
Politik dan Pemerintahan
Bukti tentang politik dan pemerintahan yang ada di Nusantara
dapat di lacak dari munculnya kerajaan-kerajaan tertua yang pernah ada di
Indonesia. Sebagai contoh prasasti dari Kutai yang selama ini telah menjadi
patokan babakan dimulainya masa sejarah Indonesia dapat memberikan gambaran
akan adanya sistem politik dan pemerintahan ketika itu.
Keberadaan raja sebagai pemimpin erat hubungannya dengan
golongan lain dari kelompok keagamaan yaitu para brahmana. Hubungan ini pula
yang dapat memberikan gambaran lebih jauh akan sistem pemerintahan dan politik
ketika itu. Struktur birokrasi sebagai inti pemerintahan ada yang mengatakan
mulai dapat dilacak sejak masa Sriwijaya. Sejumlah prasasti menunjukkan adanya
pelaksanaan dari keputusan raja dilengkapi dengan perincian saksi dan
imbalan-imbalan yang diterimanya.
Dari
beberapa kerajaan yang tertua di Nusantara telah menunjukkan tentang bagaimana
tatanan politik dan pemerintahannya. Kekuasaan pemerintah pusat diperkuat
dengan melakukan program-program yang berhubungan dengan upacara dan birokrasi.
Pesta-pesta tahunan merupakan sarana pengkonsentrasian rakyat dalam jumlah
banyak di ibukota. Hasil-hasil industry dan pertanian dalam kualitas dan
kuantitas lebih disediakan untuk upacara. Hasil pertanian, pajak dan kerja
wajib dibuutuhkan untuk penyelenggaraan ini. Di sinilah loyalitas penguasa
bawahan kepada penguasa atasan, antara rakyat dengan penguasanya akan dipakai
sebagai ukuran.
Upacara agama menimbulkan arti yang lebih besar dan
menyebabkan tumbuhnya pusat-pusat kehidupan. Selain rakyat tentunya, di sana
akan terkonsentrasi struktur-struktur upacara seperti candi, makam dan tempat
suci lainnya. Hal ini membuat berkembangnya pusat-pusat politik dan menjadi
kohesif bagi pusat pemerintahan.
Koordinasi dan integrasi masyarakat yang dilakukan oleh
pemerintah pusat menimbulkan kebutuhan akan birokrasi untuk mengorganisasi dan
mengawasi pungutan pajak, upeti,dan barang-barang yang ada. Akibatnya basis
kekuasaan sebagian besar ada di tangan birokrasi. Penguasa dan birokrasi,
keduanya didasarkan pada kekuatan untuk mengeksploitasi agraris dan
perdagangan, menjadi kekuatan yang paling dominan secara politik dan kultural.
Yang jelas, sebelum datangnya Islam bahwa perkembangan
politik dan pemerintahan dalam mengelola negara adalah bersifat sentralisasi
dan monopolisasi jabatan pemerintahan di tangan sekelompok penguasa yang
dikepalai seorang rajayang paling dominan. Hubungan antara raja dengan
pegawai-pegawai di bawahnya berbentuk sebagai hubungan clientship yaitu ikatan
antara seorang penguasa politik tertinggi dan orang yang dikuasakan untuk
menjalankan sebagian dari kekuasan penguasa tertinggi.
D.
Perekonomian dan Perindustrian
Telah diketahui bahwa pada masa kerajaan-kerajaan tertua
yang pernah ada di Nusantara ini, juga telah disinggung bagaimana kehidupan
ekonomi masyarakat ketika itu. Pemukiman yang terpencar dilembah-lembah sungai
dan di dataran-dataran pegunungan, di sanalah terdapat komunitas-komunitas
dengan segala aktivitasnya sebagai pendukung utama keberlangsungan stabilitas
ekonomi pemerintahan. Toh begitu, daerah pedalaman adalah daerah agraris yang
tertutup. Perdagangan, sebagai satu aktivitas ekonomi yang menuntut adanya
keterbukaan hanyalah dilakukan oleh sedikit golongan rakyat yang harus berjalan
jauh dengan pedati-pedati atau sampan mereka untuk berdagang. Perdagangan luar
negeri hanyalah berpengaruh terutama pada istana dan para pedagang dan
kota-kota pelabuhan. Perdagangan itu tidak untuk kepentingan massa penduduk
desa, kaum bangsawan, ataupun pemuka agama daerah.
Sebagaian perdagangan interinsuler negeri Jawa terutama pada
perdagangan beras. Istana sebagai pemegang pengawasan di seluruh daerah,
mempunyai kekuasaan tertinggi atas transaksi perdagangan. Di kota-kota pantai
kekuasaan politik dan ekonomi dipegang oleh kaum aristokrasi yang mendominasi
perdagangan, baik sebagai pemegang/pemberi modal ataupun kadang-kadang sebagai
pelaku perdagangan.
Dalam perspektif sejarah kalau di telaah bahwa
kerajaan-kerajaan yang pernah ada itu menjadikan perdagangan sebagai basis
kekuatan politik dan hubungan yang tetap dengan kebudayaan asing atau negara
lain.
Sisi lain perekonomian adalah pertanian yang merupakan
tulang punggung perekonomian sebagian besar pemerintahan yang pernah ada di
wilayah Nusantara. Hasil pertanian persawahan menjamin stabilitas dan
persediaan makanan secara teratur. Organisasi pekerjaan yang dibutuhkan dalam
pengolahan lahan persawahan pada skala yang luas berhubungan timbal-balik
dengan perkembangan masyarakat dan administrasi. Beras menjadi tulang punggung
utama ekonomi kerajaan. Surplus hasil pertanain yang terjadi, kemudian bahkan
menjadi komoditas ekspor. Beras dipertukarkan dengan komoditas lainnya,
rempah-rempah (dari wilayah lokal) yang kemudian dipertukarkan dengan komoditas
perdagangan dari luar seperti kain, keramik dan lain-lain terutama dari India
dan Cina.
Sebagai contoh pada masa Kerajaan Majapahit berkuasa, para
pedagang asing berdatangan ke wilayah kekuasaan Majapahit, seperti dari Champa,
Thailand, Birma, Srilankka dan India. Mereka kemudian sebagian bermukim di Jawa
dan bahkan ada beberapa diantaranya yang kemudian ditarik pajak.
Sebagai perimbangan kehidupan perekonomian yang semakin
maju, maka di bidang industri juga terpacu untuk berkembang. Pengertian
industry di sini meliputi industry rumah tangga, kerajinan dan industri logam.
Sekali lagi data arkeologi menunjukkan bukti-buuktinya yaitu sumber prasasti
dan artefak yang telah ditemukan. Ada istilah Perundagian yang berkaitan dengan
kepandaian, kehlian seseorang yang memerlukan keahlian khususnya, misalnya
tukang kayu atau ahli bangunan. Dalam beberapa prasasti kuno ditemukan beberapa
keterampilan membuat suatu benda (alat) denggan istilah undagi seperti undagi
lancang (pembuat perahu), undagi batu (pemahat batu), undagi pengarung (pembuat
terowongan), undagi kayu (tukang kayu), undagi rumah (pembuat rumah). Selain
itu ditemukan juga kelompok yang disebut pande mas (pandai emas), pande wse
(pandai besi), pande tambra (pandai tembaga), pande kangsa (pandai perunggu),
pande dadap (pandai tameng/perisai). Mereka selain membuat benda/alat itu untuk
kebutuhan mereka dan rakyat biasa, juga untuk memenuhi kebutuhan raja dan
kerabatnya.
E.
Seni dan Sastra
Berbicara tentang seni akan ditemukan satu keragaman yang
luar biasa bentuk dan jenisnya, karena seni adalah penjelmaan dari rasa indah
yang terkandung di dalam hati orang yang dilahirkan dengan perantaraan
alat-alat komunikasi ke dalam bentuk-bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengaran
(seni suara), penglihatan (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan
gerak (seni tari,drama).
Pada saat itu, bentuk-bentuk seni yang telah berkembang
yaitu seni musik, seni tari, wayang, lawak, dan tari topeng. Bentuk-bentuk seni
tersebut secara tak langsung sebagian besar terdokumentasikan pada
pahatan-pahatan relief di candi-candi yang tersebar di berbagai tempat.
Sedangkan seni yang tidak meninggalkan artefak dapat dikategorikan sebagai seni
pertunjukan. Kemudian pada masa Kerajaan Medang Kamulan, rajanya Airlangga, di
mana seni tari dan musik berkembang dengan baik.
Bentuk-bentuk karya seni berbahan tanah juga ada seperti
wadah, dinding sumur, lantai, dinding, penyimpan uang juga ada yang berfungsi
estetis murni ataupun religious seperti patung, amulet, patung binatang,
miniature bangunan, mata uang. Bahan dari keramikdan porselin kebanyakan berupa
alat-alat makan dan minum yang kadang-kadang difungsikan juga untuk hiasan.
Seni gamelan adalah adalah salah satu unsur budaya yang
telah dimiliki oleh Bangsa Indonesia sebelum datangnya pengaruh India.
Panjangnya pengaruh dan perubahan, maka tentunya gamelan juga telah banyak
mengalami perkembangan baik bentuk dan kualitasnya. Dari sumber prasasti,
gamelan dari masa jawa kuno khususnya dapat dikelompokkan menjadi jenis
chordopohones (alat music yang bunyinya dihasilkan dengan memetik kawat, contoh
kecapi, siter,clempung), aerophones (alat musik tiup, contoh seruling,
terompet), membranophones (alat musik pukul dengan penutup seperti gendang),
idiophones (alat musik yang dirangkai, contohnya gong, reyong), dan xylophones,
(alat musik bilah gambang, kulintang pada masa sekarang).
Sedangkan
perkembangan sastra khususnya ketika masuk pengaruh Hindu-Budha ke Nusantara
cukup mengalami perkembangan. Seperti kitab Mahabrata dan Ramayana adalah
menjadi dasar ditemukannya gubahan-gubahan cerita yang sangat mungkin diambil
sebagian atau utuh melahirkan naskah sastra yang lain. Naskah yang ada biasanya
dalam bentuk sastra yang menceritakan tentang pengalaman ataupun kemuliaan
seorang raja yang berkuasa ketika itu. Kitab Bratayudha berisi tentang
kemenangan Kediri atas Jenggala (ini adalah hasil gubahan bebas dari bahagian
buku Mahabrata). Salah seorang pujangga yang terkenal pada masa kerajaan ini
ialah Mpu Kanwa menggubah suatu Syair bernama Arjunawiwaha (Perkawinan Arjuna),
saduran dari bagian Mahabrata. Arjunawiwaha merupakan hasil kesusastraan jawa
yang seindah-indahnya. Isinya mengisahkan perkawinan Erlangga dengan putrid
Sumatra, dalam tahun 1030 M., syair itu disadur juga ke dalam cerita wayang.
Tiap-tiap daerah mempunyai naskah-naskah yang sekaligus
merupakan sumber sejarah. Ada cerita pararaton, yaitu menceritakan tentang
keberadaan raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Singosari. Kitab
Nagarakertagama, yaitu menceritakan tentang hubungan silsilah raja-raja
Majapahit dengan raja-raja Singosari. Kitab Sutasomo, yaitu merupakan karya Mpu
Tantular yang terdapat kalimat “Bhinneka Tunggal Ika”. Ungkapan ini digunakan
untuk menyatakan bahwa ajaran Hindu-Budha berbeda tetapi memiliki asas yang
sama (Kerajaan Majapahit).
Kebudayaan masa itu adalah kebudayaan istana, artinya
kebudayaan adalah ciptaan para penguasa, milik serta hasil karya eksklusif dari
birokrasi. Monument-monumen, kesusasteraan, tulisan-tulisan teokratis dan
ajaran-ajaran hukum dan agama menjadi milik para bangsawan dan rohaniawan.
Seluruh kebudayaan menjadi menjulang tinggi di atas rakyat kebanyakan.
Kebudayaan bukanlah harta benda kultural rakyat.
Langganan:
Komentar (Atom)